Hero section image background

Bergeraklah Sampai Orang Menganggapmu Gila: Kisah Inspiratif Isal Sang Penjaga Alam

Jumat, 31 Oktober 2025

Artikel

1,9 rb

Postingan ini dilihat

0

Postingan ini dibagikan

Poster post Bergeraklah Sampai Orang Menganggapmu Gila: Kisah Inspiratif Isal Sang Penjaga Alam

Dulu dianggap gila dan dicemooh, kini Isal Nur Hidayatulloh berhasil mewujudkan mimpi: langkahnya diikuti, alamnya lestari, dan masyarakatnya berseri.

Di sebuah dusun kecil bernama Sukasirna, Desa Maparah, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, hidup seorang pemuda yang memilih jalan berbeda dari kebanyakan teman sebayanya.
Saat yang lain sibuk dengan gawai dan kota, ia justru menghabiskan waktunya menyusuri sungai, membersihkan sampah, dan menanam pohon di sekitar sumber-sumber mata air. Namanya Isal Nur Hidayatulloh, dan di mata sebagian orang, dulu ia dicap gila.

Lahir pada 10 Oktober 1999, Isal tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya, Ikin Sodikin, adalah kepala dusun yang dihormati warga, sementara ibunya, Yayah Badriyah, seorang ibu rumah tangga yang sederhana. Sejak kecil, kehidupan desa yang damai dan dikelilingi hutan, sungai, serta udara segar telah membentuk apa yang ia sebut sebagai “karakter alam”, karakter yang menumbuhkan kepekaan sosial dan kepedulian tanpa disuruh, hingga menjadikannya gaya hidup.

Namun ketenangan itu perlahan berubah. Hulu Sungai Cimuntur dan Situ Lengkong mulai tercemar. Makin parah lagi, bukit Joho dan Bubulak perlahan gundul dan kritis. Di saat itu, tak ada pemuda lain di lingkungannya yang berani bersuara atau bergerak untuk melindungi alam. Bagi Isal, itu seperti melihat sahabat masa kecilnya sekarat. Ia tak sanggup diam.

Pada 22 November 2017, masih bersekolah di bangku SLTA di MAN 5, Isal justru memutuskan turun ke sungai. Ia menanam pohon di sekitar sumber-sumber mata air, mendirikan komunitas pecinta alam SISPALA GRILIS, dan mulai berbicara tentang konservasi di lingkungannya. Tapi langkahnya tak disambut hangat. “Saya sering dianggap gila,” katanya sambil tersenyum tipis. “Orang mengira saya pemulung, karena tiap hari bawa karung dan mainnya ke sungai.”

Ejekan tak hanya datang dari luar. Kedua orang tuanya sempat khawatir anaknya tak punya masa depan. Ayahnya bahkan mencarikan pekerjaan agar Isal punya penghasilan tetap. Namun Isal menolak dengan lembut. Ia punya keyakinan sendiri: bahwa menjaga alam bukan sekadar hobi, melainkan panggilan hati. “Saya ingin membuat orang tua saya bangga dengan cara saya sendiri,” ujarnya pelan.

Dari keyakinan itu, pada Oktober 2020, Isal mendirikan Paguyuban Sadar Lingkungan (PSL). Anggotanya hanya segelintir anak muda yang percaya bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil. Bersama mereka, Isal menanam ribuan pohon di Gunung Syawal, membersihkan mata air, dan memperbaiki akses menuju Curug Goong yang dulunya kumuh. Perubahan mulai tampak: Sungai Cimuntur berangsur jernih, bukit yang gundul mulai hijau, bahkan kelelawar “Buah Kai” yang sempat hilang kembali beterbangan di langit senja Panjalu.

Perlahan, cemoohan berubah jadi ajakan. Warga yang dulu menertawakan kini ikut membersihkan sungai. Pemerintah desa dan berbagai pihak mulai memberi dukungan. Hasil kolaborasi dan gerakan bersama itu turut menginspirasi lahirnya Peraturan Bupati Ciamis Nomor 27 Tahun 2021 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik, kebijakan yang tak lahir di meja rapat, tetapi dari kerja nyata di lapangan.

Namun perjuangan itu tak datang tanpa harga. Pada 2022, Isal memutuskan berhenti kuliah sementara agar bisa fokus merawat lingkungan. “Banyak yang kecewa,” ujarnya, “tapi bagi saya, alam adalah kampus terbesar.” Di situlah ia belajar arti ketekunan dan pengorbanan. Hari-harinya diisi dengan menanam pohon, memantau pertumbuhan, dan berbicara dari hati ke hati dengan masyarakat. Tak ada gaji, tak ada sorotan media. Tapi ada kepuasan yang tak bisa dibeli: melihat alam kembali hidup.

Puncak perjuangannya terjadi pada Agustus 2023. Masyarakat yang dulu menertawakannya kini ikut turun ke sungai, membawa karung dan bibit pohon seperti yang dulu ia lakukan sendirian. “Itu momen yang tak akan pernah saya lupakan,” kenangnya dengan mata berbinar. “Saya sadar, ketika niatnya tulus, alam dan manusia akhirnya akan bergerak bersama.”

Kini, Sungai Cimuntur bukan lagi simbol kerusakan, melainkan kebangkitan. Airnya kembali jernih, pepohonan tumbuh rimbun di tepian, dan kawasan Panjalu menjadi destinasi wisata edukasi lingkungan. PSL yang dulu kecil kini menjelma menjadi jaringan kolaborasi lima unsur pentahelix, yakni Pemerintah, Akademisi, Media, Komunitas/Masyarakat dan Dermawan untuk keberlanjutan alam dan lingkungan.

Atas ketekunannya, Isal meraih sederet penghargaan: Pemuda Pelopor Ciamis 2023, Relawan Terbaik Jabar Bergerak Award 2023, Teladan Wana Lestari Nasional 2024, dan Juara 2 Pemuda Pelopor Desa Nasional 2025. Namun baginya, semua itu hanya tanda syukur. “Penghargaan hanyalah bonus,” katanya tenang. “Yang penting, alamnya pulih dan masyarakatnya ikut bahagia.”

Di akhir percakapan, Isal berkata “Bergeraklah sampai orang lain menganggap kita gila,” ujarnya, “dan menggilalah sampai orang lain juga ikut bergerak.”

Kini, Sungai Cimuntur mengalir dengan damai, memantulkan bayangan pepohonan muda yang ditanam tangan-tangan yang dulu dicemooh. Dari desa kecil di Ciamis, seorang anak muda membuktikan bahwa menjaga alam tak perlu menunggu kaya, terkenal, atau berkuasa. Cukup teguh, jujur, dan tidak menyerah pada ejekan.

Dulu ia ditertawakan, kini langkahnya diikuti. Sungai yang dulu keruh perlahan berkilau, seolah mengenali tangan yang tak pernah berhenti peduli. Dari yang dianggap gila, lahir bukti sederhana: bahwa ketulusan bisa menumbuhkan kehidupan. Dari desa, untuk Indonesia.

Penulis: Haifa Nailah

Penulis: admin DLH

Tags

  • dlhjabar