Print this page
28
March

KONDISI TUTUPAN LAHAN SUB DAS CITARUM DI KAWASAN BANDUNG UTARA (KBU)

Written by 
Published in Berita Lingkungan

Kejadian banjir bandang (20/3/2018) di daerah Cicaheum yang disebabkan oleh meluapnya Sungai Cipamokolan dan Cicabe kemarin merupakan salah satu cerminan bahwa adanya degradasi lingkungan yang terjadi di kawasan hulu sungainya. Ditinjau dari aspek hidrologis bahwa Kawasan Bandung Utara memiliki identitas sebagai salah satu kawasan hulu DAS (Daerah Aliran Sungai) Citarum yang sangat strategis, karena selain berperan sebagai kawasan perkotaan di Metropolitan Bandung Raya, KBU juga memiliki fungsi konservasi air untuk berlangsungnya kelestarian DAS Citarum.
DAS Citarum memiliki hulu sungai yang memanjang, mulai dari hulu di ujung paling timur yaitu Situ Cisanti yang berada di Kabupaten Bandung dan hulu yang berada di ujung paling barat yaitu di Gunung Gede dan Gunung Pangrango hingga deretan perbukitan di Gunung Hambalang Kabupaten Bogor. Hulu DAS memiliki peran dan fungsi sebagai penyangga bagi kawasan di bawahnya, jika hulu DAS masih terjaga kelestariannya maka sudah pasti dapat dicirikan di sana masih terdapat banyaknya vegetasi hijau seperti hutan, namun jika di kawasan hulu DAS sudah terjadi alih fungsi lahan seperti berkurangnya lahan hutan akibat pembalakan atau berubah fungsinya maka sudah dapat dipastikan bahwa peran dan kekuatan hulu DAS sebagai penyangga semakin berkurang. Kelestarian DAS memiliki manfaat penting untuk optimalisasi daerah tangkapan air hujan, untuk menjaga kualitas air, mencegah banjir dan kekeringan saat musim hujan dan kemarau, dan mengurangi aliran muatan tanah dari hulu ke hilir karena erosi saat hujan.


Peta DAS Citarum (Pembagian Hulu dan Hilir DAS)

Sub DAS merupakan bagian wilayah kecil dari suatu DAS, DAS Citarum memiliki puluhan Sub DAS di dalamnya, diantaranya adalah Sub DAS yang letaknya ada di Kawasan Bandung Utara. Berdasarkan hasil analisis secara pemetaan Sub DAS yang letaknya ada di KBU tersebut diantaranya terdiri dari Sub DAS Cikapundung, Cidurian, Citepus, Cimahi, Cilember, Cimeta, Cikeruh, Cisomang, dan Cihaur. Masing-masing Sub DAS tersebut memiliki ciri fisik yang beragam mulai dari perbedaan luasan dan geomorfologi, kondisi tutupan lahan vegetasi dan lahan terbangun, hingga tingkat perbedaan potensi tanahnya untuk meresapkan air hujan.
Berdasarkan data tutupan lahan tahun 2014, Sub DAS di KBU kondisinya begitu memprihatinkan, mengingat proporsi hutan di kawasan hulu Sub DAS begitu sedikit. Seperti di Sub DAS Cikapundung yang hanya memiliki luas hutan sebesar 1.558 Ha atau 10% dari total luas Sub DAS Cikapundung yaitu seluas 14.956 Ha. Sub DAS Citepus yang hanya memiliki luas hutan sebesar 133 Ha atau sekitar 1,77% dari total luas Sub DAS Citepus 7.571 Ha. Kemudian Sub DAS Cidurian dengan luas hutannya yang hanya 253 Ha atau 2,38% dari total luas Sub DAS Cidurian 10.616 Ha. Luas tutupan lahan setiap Sub DAS dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Sementara itu, luas hutan di KBU sendiri tercatat pada tahun 2014 adalah seluas 12,37% atau 4.767 Ha dari total luas KBU yang seluas ±38.548 Ha. Luas tutupan lahan setiap Sub DAS dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Berbicara mengenai kondisi tutupan lahan Sub DAS yang memprihatinkan, maka hal ini memiliki keterkaitan sebab akibat yang erat dengan adanya kejadian banjir bandang di Cicaheum kemarin. Wilayah Cicaheum jika ditampalkan ke dalam peta Sub DAS, maka wilayah tersebut masuk ke dalam Sub DAS Cidurian. Sub DAS Cidurian saat ini di kawasan hulunya hanya terdapat luasan hutan sebesar 2,38%, di samping itu berbanding terbalik dengan luasan lahan terbangun yang begitu besar yaitu 38,87%. Proporsi tutupan lahan vegetasi hutan yang ada di hulu ini sangat tidak seimbang, padahal untuk menjaga kelestarian Sub DAS agar perannya tetap berfungsi sebagai daerah tangkapan air hujan dan pencegah banjir bandang maka proporsi hutan yang harus tersedia di hulu sungai minimal luasannya harus bisa menjaga sirkulasi proses penyerapan air hujan ke dalam tanah. Kondisi tutupan lahan Sub DAS Cidurian berdasarkan data tutupan lahan tahun 2014 dapat dilihat pada gambar berikut.

Walaupun pada kenyataannya kejadian banjir bandang di Cicaheum lebih besar penyebabnya dikarenakan jebolnya salah satu tanggul sungai yang ada di Jatihandap, akan tetapi hal ini akan lebih bisa diminimalisir oleh optimalnya sirkulasi peresapan air hujan ke dalam tanah di kawasan hulu sungainya, debit air sungaipun tidak akan sebesar yang terjadi. Jika luas hutan di hulu Sub DAS proporsional, maka aliran air hujan yang mengangkut muatan tanahpun (erosi) akan lebih bisa diminimalisir pula. Berdasarkan perhitungan erosi yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup Jabar pada tahun 2016, sebagian besar wilayah KBU memiliki potensi erosi yang sangat tinggi, jika luasan KBU adalah seluas ±38.000 Ha maka 32% luas wilayahnya menyumbang erosi sangat tinggi (>480 ton/ha/tahun), sebagian muatan tanahnya berpindah ke lokasi lain dan yang lebih merugikan adalah muatan tanahnya yang tererosi ke dalam sungai yang mengakibatkan adanya sedimentasi dan pendangkalan sungai.
Berdasarkan hasil analisis pemetaan ini, seharusnya pengelolaan dan rahabilitasi kawasan hulu DAS Citarum merupakan kegiatan yang harus menjadi skala prioritas. Tidak hanya di Kawasan Bandung Utara tapi hulu Citarum secara keseluruhan yaitu, hulu yang berada di Kawasan Bandung Selatan juga harus selaras bersama-sama direhabilitasi dengan KBU. Jika kondisi hulu Citarum yang ada di Bandung Raya ini semakin membaik maka keberlangsungan kehidupan manusia dan seluruh makhluk hidup yang ada di dalamnya akan tetap terjaga, kerusakan lingkungan juga lebih terkendali. Inilah mengapa untuk terlaksananya konservasi air maka pengelolaan dan pemanfaatan alam kebijakannya tidak dapat dibatasi oleh administratif melainkan harus diputuskan berdasarkan batas DAS, kondisi dan kemampuan dari Daerah Aliran Sungai tersebut.

Penyusun: Arif Nurrohman, Analis Pemodelan Spasial


 

 

Read 5748 times Last modified on Tuesday, 03 April 2018 10:04
Rate this item
(1 Vote)
Admin DLH Jabar

Latest from Admin DLH Jabar